Kulukiskan namamu dibatas langit senja.
Berbaurkan warna jingga dan biru yang mulai memekat.
Menyatu bersama matahari terbenam.
Siap tenggelam bersama semilir angin sore hari.
Demi senja yang menjadi batas dua alam.
Ku takut malam ini sisa-sisa lukisan itu masih membekas jelas.
Sinar bulan yang mulai menyinari malam ini menjadi saksi bisu atas bekas goresan lukisan itu.
Meski aku telah beranjak dari langit senja,
Sisa-sisa nama itu masih terpahat dengan sempurna kedalam malamku, malam yang menenggelamkanku.
Malam yang tak pernah habis ditelan gelap.
Malamku telah menyapaku, ia datang.
Bahkan dalam malampun, aku masih takut. Ada hal yang sulit kuungkapkan tentang ketakutanku.
Ah.. lebih baik aku bersyair dan mendendangkan lagu lama.
Tentang sang malam.
Tentang lukisan namamu.
Tentang langit senja yang ditelan malam.
Tentang arti kerinduan yang terpendam.