A.
FILSAFAT KETUHANAN DALAM ISLAM
Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan
dengan pendekatan akal budi, maka dipakai pendekatan yang disebut filosofis.
Bagi orang yang menganut agama tertentu (terutama agama Islam, Kristen,
Yahudi), akan menambahkan pendekatan wahyu di dalam usaha memikirkannya. Jadi
Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran para manusia dengan pendekatan akal budi tentang
Tuhan. Usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara
absolut atau mutlak, namun mencari pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi
manusia untuk sampai pada kebenaran tentang Tuhan.
Meyakini adanya Tuhan adalah masalah fithri yang
tertanam dalam diri setiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia
yang berlebihan sehingga mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa
kepada Sang Pencipta dan kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya,
cahaya fitrah mereka redup atau bahkan padam.
Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para
ahli ma’rifat berkata, “Jalan-jalan menuju ma’rifatullah sebanyak nafas
makhluk.” Salah satu jalan ma’rifatullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum
muslim, golongan ahli Hadis (Salafi) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal
sehubungan dengan ketuhanan. Mereka berpendapat, bahwa satu-satunya jalan untuk
mengetahui Allah adalah nash (Al Quran dan Hadis). Mereka beralasan dengan
adanya sejumlah ayat dan riwayat yang secara lahiriah melarang menggunakan akal
(ra’yu). Padahal kalau kita perhatikan, ternyata Al Quran dan Hadis sendiri
mengajak kita untuk menggunakan akal, bahkan menggunakan keduanya ketika
menjelaskan keberadaan Allah
B.
Pembuktian
wujud Tuhan
a)
Metode Pembuktian Ilmiah
Tantangan zaman modern terhadap
agama terletak dalam masalah metode pembuktian. Metode ini mengenal hakikat
melalui percobaan dan pengamatan, sedang akidah agama berhubungan dengan alam
di luar indera, yang tidak mungkin dilakukan percobaan (agama didasarkan pada
analogi dan induksi). Hal inilah yang menyebabkan menurut metode ini agama
batal, sebab agama tidak mempunyai landasan ilmiah.
Sebenarnya sebagian ilmu modern
juga batal, sebab juga tidak mempunyai landasan ilmiah. Metode baru tidak
mengingkari wujud sesuatu, walaupun belum diuji secara empiris. Di samping itu
metode ini juga tidak menolak analogi antara sesuatu yang tidak terlihat dengan
sesuatu yang telah diamati secara empiris. Hal ini disebut dengan “analogi
ilmiah” dan dianggap sama dengan percobaan empiris.
Suatu percobaan dipandang sebagai
kenyataan ilmiah, tidak hanya karena percobaan itu dapat diamati secara
langsung. Demikian pula suatu analogi tidak dapat dianggap salah, hanya karena
dia analogi. Kemungkinan benar dan salah dari keduanya berada pada tingkat yang
sama.
Percobaan dan pengamatan bukanlah
metode sains yang pasti, karena ilmu pengetahuan tidak terbatas pada persoalan
yang dapat diamati dengan hanya penelitian secara empiris saja. Teori yang
disimpulkan dari pengamatan merupakan hal-hal yang tidak punya jalan untuk
mengobservasi. Orang yang mempelajari ilmu pengetahuan modern berpendapat bahwa
kebanyakan pandangan pengetahuan modern, hanya merupakan interpretasi terhadap
pengamatan dan pandangan tersebut belum dicoba secara empiris. Oleh karena itu
banyak sarjana percaya padanya hakikat yang tidak dapat diindera secara
langsung. Sarjana mana pun tidak mampu melangkah lebih jauh tanpa berpegang
pada kata-kata seperti: “Gaya” (force), “Energy”, “alam” (nature),
dan “hukum alam”. Padahal tidak ada seorang sarjana pun yang mengenal apa itu:
“Gaya, energi, alam, dan hukum alam”. Sarjana tersebut tidak mampu memberikan
penjelasan terhadap kata-kata tersebut secara sempurna, sama seperti ahli
teologi yang tidak mampu memberikan penjelasan tentang sifat Tuhan. Keduanya
percaya sesuai dengan bidangnya pada sebab-sebab yang tidak diketahui.
Dengan demikian tidak berarti
bahwa agama adalah “iman kepada yang ghaib” dan ilmu pengetahuan adalah percaya
kepada “pengamatan ilmiah”. Sebab, baik agama maupun ilmu pengetahuan
kedua-duanya berlandaskan pada keimanan pada yang ghaib. Hanya saja ruang
lingkup agama yang sebenarnya adalah ruang lingkup “penentuan hakikat” terakhir
dan asli, sedang ruang lingkup ilmu pengetahuan terbatas pada pembahasan
ciri-ciri luar saja. Kalau ilmu pengtahuan memasuki bidang penentuan hakikat,
yang sebenarnya adalah bidang agama, berarti ilmu pengetahuan telah menempuh
jalan iman kepada yang ghaib. Oleh sebab itu harus ditempuh bidang lain.
Para sarjana masih menganggap
bahwa hipotesis yang menafsirkan pengamatan tidak kurang nilainya dari hakikat
yang diamati. Mereka tidak dapat mengatakan: Kenyataan yang diamati
adalah satu-satunya “ilmu” dan semua hal yang berada di luar kenyataan bukan
ilmu, sebab tidak dapat diamati. Sebenarnya apa yang disebut dengan iman kepada
yang ghaib oleh orang mukmin, adalah iman kepada hakikat yang tidak dapat
diamati. Hal ini tidak berarti satu kepercayaan buta, tetapi justru merupakan
interpretasi yang terbaik terhadap kenyataan yang tidak dapat diamati oleh para
sarjana.
b)
Keberadaan Alam Membuktikan Adanya Tuhan
Adanya alam serta organisasinya
yang menakjubkan dan rahasianya yang pelik, tidak boleh tidak memberikan
penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah menciptakannya, suatu “Akal”
yang tidak ada batasnya. Setiap manusia normal percaya bahwa dirinya “ada” dan
percaya pula bahwa alam ini “ada”. Dengan dasar itu dan dengan kepercayaan
inilah dijalani setiap bentuk kegiatan ilmiah dan kehidupan.
Jika percaya tentang eksistensi
alam, maka secara logika harus percaya tentang adanya Pencipta Alam. Pernyataan
yang mengatakan: <<Percaya adanya makhluk, tetapi menolak adanya
Khaliq>> adalah suatu pernyataan yang tidak benar. Belum pernah diketahui
adanya sesuatu yang berasal dari tidak ada tanpa diciptakan. Segala sesuatu
bagaimanapun ukurannya, pasti ada penyebabnya. Oleh karena itu bagaimana akan
percaya bahwa alam semesta yang demikian luasnya, ada dengan sendirinya tanpa
pencipta?
c)
Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Fisika
Sampai abad ke-19 pendapat yang
mengatakan bahwa alam menciptakan dirinya sendiri (alam bersifat azali) masih
banyak pengikutnya. Tetapi setelah ditemukan “hukum kedua termodinamika”
(Second law of Thermodynamics), pernyataan ini telah kehilangan landasan
berpijak.
Hukum tersebut yang dikenal
dengan hukum keterbatasan energi atau teori pembatasan perubahan energi panas
membuktikan bahwa adanya alam tidak mungkin bersifat azali. Hukum tersebut
menerangkan bahwa energi panas selalu berpindah dari keadaan panas beralih
menjadi tidak panas. Sedang kebalikannya tidak mungkin, yakni energi panas
tidak mungkin berubah dari keadaan yang tidak panas menjadi panas. Perubahan
energi panas dikendalikan oleh keseimbangan antara “energi yang ada” dengan
“energi yang tidak ada”.
Bertitik tolak dari kenyataan
bahwa proses kerja kimia dan fisika di alam terus berlangsung, serta kehidupan
tetap berjalan. Hal itu membuktikan secara pasti bahwa alam bukan bersifat
azali. Seandainya alam ini azali, maka sejak dulu alam sudah kehilangan
energinya, sesuai dengan hukum tersebut dan tidak akan ada lagi kehidupan di
alam ini. Oleh karena itu pasti ada yang menciptakan alam yaitu Tuhan.
d)
Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi
Benda alam yang paling dekat
dengan bumi adalah bulan, yang jaraknya dari bumi sekitar 240.000 mil, yang
bergerak mengelilingi bumi dan menyelesaikan setiap edarannya selama dua puluh
sembilan hari sekali. Demikian pula bumi yang terletak 93.000.000.000 mil dari
matahari berputar pada porosnya dengan kecepatan seribu mil per jam dan
menempuh garis edarnya sepanjang 190.000.000 mil setiap setahun sekali. Di
samping bumi terdapat gugus sembilan planet tata surya, termasuk bumi, yang
mengelilingi matahari dengan kecepatan luar biasa.
Matahari tidak berhenti pada
suatu tempat tertentu, tetapi ia beredar bersama-sama dengan planet-planet dan
asteroid mengelilingi garis edarnya dengan kecepatan 600.000 mil per jam. Di
samping itu masih ada ribuan sistem selain “sistem tata surya” kita dan setiap
sistem mempunyai kumpulan atau galaxy sendiri-sendiri. Galaxy-galaxy tersebut
juga beredar pada garis edarnya. Galaxy dimana terletak sistem matahari kita,
beredar pada sumbunya dan menyelesaikan edarannya sekali dalam 200.000.000 tahun
cahaya.
Logika manusia dengan
memperhatikan sistem yang luar biasa dan organisasi yang teliti, akan
berkesimpulan bahwa mustahil semuanya ini terjadi dengan sendirinya, bahkan
akan menyimpulkan bahwa di balik semuanya itu ada kekuatan maha besar yang membuat
dan mengendalikan sistem yang luar biasa tersebut, kekuatan maha besar tersebut
adalah Tuhan.
Metode pembuktian adanya Tuhan
melalui pemahaman dan penghayatan keserasian alam tersebut oleh Ibnu Rusyd
diberi istilah “dalil ikhtira”. Di samping itu Ibnu Rusyd juga menggunakan
metode lain yaitu “dalil inayah”. Dalil ‘inayah adalah metode pembuktian adanya
Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan manfaat alam bagi kehidupan manusia
(Zakiah Daradjat, 1996:78-80)
I.
Konsep
Keimanan
A. Pengertian Iman
Kebanyakan orang menyatakan bahwa
kata iman berasal dari kata kerja amina-yu’manu-amanan yang berarti percaya.
Oleh karena itu, iman yang berarti percaya menunjuk sikap batin yang terletak
dalam hati. Akibatnya, orang yang percaya kepada Allah dan selainnya seperti
yang ada dalam rukun iman, walaupun dalam sikap kesehariannya tidak
mencerminkan ketaatan dan kepatuhan (taqwa) kepada yang telah dipercayainya,
masih disebut orang yang beriman. Hal itu disebabkan karena adanya keyakinan
mereka bahwa yang tahu tentang urusan hati manusia adalah Allah dan dengan
membaca dua kalimah syahadat telah menjadi Islam.
Dalam surah al-Baqarah ayat 165
dikatakan bahwa orang yang beriman adalah orang yang amat sangat cinta
kepada Allah (asyaddu hubban lillah). Oleh karena itu beriman kepada
Allah berarti amat sangat rindu terhadap ajaran Allah, yaitu Al-Quran menurut
Sunnah Rasul. Hal itu karena apa yang dikehendaki Allah, menjadi kehendak orang
yang beriman, sehingga dapat menimbulkan tekad untuk mengorbankan segalanya dan
kalau perlu mempertaruhkan nyawa.
Dalam hadits diriwayatkan Ibnu
Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan keyakinan dalam hati, diikrarkan
dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan (Al-Immaanu ‘aqdun bil qalbi
waigraarun billisaani wa’amalun bil arkaan). Dengan demikian, iman merupakan
kesatuan atau keselarasan antara hati, ucapan, dan laku perbuatan, serta dapat
juga dikatakan sebagai pandangan dan sikap hidup atau gaya hidup.
Istilah iman dalam al-Qur’an
selalu dirangkaikan dengan kata lain yang memberikan corak dan warna
tentang sesuatu yang diimani, seperti dalam surat an-Nisa’:51 yang dikaitkan
dengan jibti (kebatinan/idealisme) dan thaghut
(realita/naturalisme). Sedangkan dalam surat al-Ankabut: 52 dikaitkan dengan
kata bathil, yaitu walladziina aamanuu bil baathili. Bhatil
berarti tidak benar menurut Allah. Dalam surat lain iman dirangkaikan dengan
kata kaafir atau dengan kata Allah. Sementara dalam al-Baqarah: 4, iman
dirangkaikan dengan kata ajaran yang diturunkan Allah (yu’minuuna bimaa
unzila ilaika wamaa unzila min qablika).
Kata iman yang tidak dirangkaikan
dengan kata lain dalam al-Qur’an, mengandung arti positif. Dengan demikian,
kata iman yang tidak dikaitkan dengan kata Allah atau dengan ajarannya,
dikatakan sebagai iman haq. Sedangkan yang dikaitkan dengan
selainnya, disebut iman bathil.
B. Korelasi antara Keimanan
dan Ketaqwaan
Keimanan pada keesaan Allah yang
dikenal dengan istilah tauhid dibagi menjadi dua, yaitu tauhid teoritis
dan tauhid praktis. Tauhid teoritis adalah tauhid yang membahas tentang
keesaan Zat, keesaan Sifat, dan keesaaan Perbuatan Tuhan. Pembahasan keesaan
Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan berkaitan dengan kepercayaan, pengetahuan,
persepsi, dan pemikiran atau konsep tentang Tuhan. Konsekuensi logis tauhid
teoritis adalah pengakuan yang ikhlas bahwa Allah adalah satu-satunya Wujud
Mutlak, yang menjadi sumber semua wujud.
Adapun tauhid praktis yang
disebut juga tauhid ibadah, berhubungan dengan amal ibadah manusia. Tauhid
praktis merupakan terapan dari tauhid teoritis. Kalimat Laa ilaaha illallah
(Tidak ada Tuhan selain Allah) lebih menekankan pengertian tauhid praktis
(tauhid ibadah). Tauhid ibadah adalah ketaatan hanya kepada Allah. Dengan kata
lain, tidak ada yang disembah selain Allah, atau yang berhak disembah hanyalah
Allah semata dan menjadikan-Nya tempat tumpuan hati dan tujuan segala gerak dan
langkah.
Selama ini pemahaman tentang
tauhid hanyalah dalam pengertian beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Mempercayai saja keesaan Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan, tanpa mengucapkan
dengan lisan serta tanpa mengamalkan dengan perbuatan, tidak dapat dikatakan
seorang yang sudah bertauhid secara sempurna. Dalam pandangan Islam, yang
dimaksud dengan tauhid yang sempurna adalah tauhid yang tercermin dalam ibadah
dan dalam perbuatan praktis kehidupan manusia sehari-hari. Dengan kata lain,
harus ada kesatuan dan keharmonisan tauhid teoritis dan tauhid praktis dalam
diri dan dalam kehidupan sehari-hari secara murni dan konsekuen.
Dalam menegakkan tauhid,
seseorang harus menyatukan iman dan amal, konsep dan pelaksanaan, fikiran dan
perbuatan, serta teks dan konteks. Dengan demikian bertauhid adalah mengesakan
Tuhan dalam pengertian yakin dan percaya kepada Allah melalui pikiran,
membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan
perbuatan. Oleh karena itu seseorang baru dinyatakan beriman dan bertakwa,
apabila sudah mengucapkan kalimat tauhid dalam syahadat asyhadu allaa ilaaha
illa Alah, (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah), kemudian diikuti
dengan mengamalkan semua perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Keimanan dan ketakwaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Orang yang bertakwa adalah orang yang beriman yaitu yang berpandangan dan
bersikap hidup dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul yakni orang yang
melaksanakan shalat, sebagai upaya pembinaan iman dan menafkahkan rizkinya
untuk mendukung tegaknya ajaran Allah.
C.
Implementasi Iman dan Takwa
Aktualisasi
taqwa adalah bagian dari sikap bertaqwa seseorang. Karena begitu pentingnya
taqwa yang harus dimiliki oleh setiap mukmin dalam kehidupan dunia ini sehingga
beberapa syariat islam yang diantaranya puasa adalah sebagai wujud pembentukan
diri seorang muslim supaya menjadi orang yang bertaqwa, dan lebih sering lagi setiap
khatib pada hari jum’at atau shalat hari raya selalu menganjurkan jamaah untuk
selalu bertaqwa. Begitu seringnya sosialisasi taqwa dalam kehidupan beragama
membuktikan bahwa taqwa adalah hasil utama yang diharapkan dari tujuan hidup
manusia (ibadah).
Taqwa adalah
satu hal yang sangat penting dan harus dimiliki setiap muslim. Signifikansi
taqwa bagi umat islam diantaranya adalah sebagai spesifikasi pembeda dengan
umat lain bahkan dengan jin dan hewan, karena taqwa adalah refleksi iman
seorang muslim. Seorang muslim yang beriman tidak ubahnya seperti binatang, jin
dan iblis jika tidak mangimplementasikan keimanannya dengan sikap taqwa, karena
binatang, jin dan iblis mereka semuanya dalam arti sederhana beriman kepada
Allah yang menciptakannya, karena arti iman itu sendiri secara sederhana adalah
“percaya”, maka taqwa adalah satu-satunya sikap pembeda antara manusia dengan
makhluk lainnya. Seorang muslim yang beriman dan sudah mengucapkan dua kalimat
syahadat akan tetapi tidak merealisasikan keimanannya dengan bertaqwa
dalam arti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya,
dan dia juga tidak mau terikat dengan segala aturan agamanya dikarenakan
kesibukannya atau asumsi pribadinya yang mengaggap eksistensi syariat agama
sebagai pembatasan berkehendak yang itu adalah hak asasi manusia, kendatipun
dia beragama akan tetapi agamanya itu hanya sebagai identitas pelengkap dalam
kehidupan sosialnya, maka orang semacam ini tidak sama dengan binatang akan
tetapi kedudukannya lebih rendah dari binatang, karena manusia dibekali akal
yang dengan akal tersebut manusia dapat melakukan analisis hidup, sehingga pada
akhirnya menjadikan taqwa sebagai wujud implementasi dari keimanannya.
Problematika tantangan dan resiko dalam kehidupan modern
Problem-problem
manusia dalam kehidupan modern adalah munculnya dampak negatif (residu), mulai
dari berbagai penemuan teknologi yang berdampak terjadinya pencemaran
lingkungan, rusaknya habitat hewan maupun tumbuhan, munculnya beberapa
penyakit, sehingga belum lagi dalam peningkatan yang makro yaitu berlobangnya
lapisan ozon dan penasan global akibat akibat rumah kaca.
Tidakkah kita
belajar dari pohon, daun yang gugur karena sudah tua apakah tidak menjadikan
residu yang merugikan tetapi justru bermanfaat bagi kesuburan pohon itu
sendiri, ini menyiratkan perlunya teknologi yang ramah lingkungan dan
meminimalisasi dampak lingkungan yang di timbulkannya. manusia juga tidak
melihat di dalam kegelapan seperti kelelawar, namun akal manusia yang dapat
menciptakan lampu, untuk mengatasi kelemahan itu.
Manusia tidak
mampu lari seperti kuda dan mengangkat benda-benda berat seperti sekuat gajah,
namun akal manusia telah menciptakan alat yang melebihi kecepatan kuda dan
sekuat gajah. Kelebihi manusia dengan mahkluk lain adalah dari Akalnya.
Sedangkan dalam bidang ekonomi kapitalisme-kapitalisme yang telah melahirkan
manusia yang konsumtif, meterialistik dan ekspoloitatif.
Berbagai Persoalan Manusia Diera
Modern
1. Problem utama modernitas :
[dampak negative penemuan teknologi]
- Terjadinya pencemaran
lingkungan
- Rusaknya habitat hewan dan
tumbuhan
- Munculnya beragam penyakit
2. Dalam Bidang Ekonomi : [Persoalan kapitalisme-Materalisme]
- Melahirkan manusia yang konsumtif-materialistik dan
eksplotatif
- Manusia hanya memandang dirinya sebagai makhluk economicus [manusia yang
mementingkan dirinya sendiri
- Manusia melupakan dirinya sebagai
makhluk homo religious yang syarat dengan kaidah moral.
- Prinsip ekonomi kapitalis
telah melahirkan manusia yang serakah-egois.
Salah satu contoh kasus di
Indonesia :
“ Demi kepentingan lahan
pertanian-perumahan, tidak malu menggunduli hutan,membakarnya. Import mobil dan
motor secara besar-besaran tidak pernah memperhitungkan dampak polusi bagi
kesehatan. Pelaku ekonomi kecil, adalah mengunakan lahan trotoar sebagai tempat
berjualan dengan tidak mempertimbangkan keselamatan pejalan kaki.”
3. Dalam bidang moral : [Paham liberalism-kebebasan berekspresi]
- Melalui teknologi informasi di
ekspose secara besar-besaran meski menabrak batas-batas agama
- Globalisasi berwajah
westernisasi ( penanaman nilai-nilai barat dengan melepas nilai-nilai moral
agama )
- Westernisasi mempunyai
kemampuan melindas local culture budaya local, buktinya : Bangsa Indonesia
dalam banyak hal selalu berkiblat pada dunia barat dan menjadikannya sebagai
symbol kemajuan.
4. Dalam persoalan sekularisme :
[ tarik menarik antara dunia-agama ]
- Urusan dunia dipisahkan dari
agama
- Munculnya split personality
(manusia berkpribadian ganda ), contoh : pada saat yang sama ia bisa menjadi
seorang korupto, meskipun ia taat beribadah.
- Peran agama akan semakin
kehilangan ruhnya.
5. Dalam Persoalan Keilmuan : [
munculnya pemikiran posivitesme ]
Sesuatu dikatakan benar jika; menggunakan tolok ukur kebenaran rasional,
empiris, eksperimental dan terukur secara metodologis.
PERAN
IMAN DAN TAQWA DALAM MENJAWAB TANTANGAN KEHIDUPAN MODERN
Pengaruh iman terhadap kehidupan
manusia sangat besar. Berikut ini dikemukakan beberapa pokok manfaat dan
pengaruh iman pada kehidupan manusia.
1. Iman melenyapkan kepercayaan
pada kekuasaan benda.
Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau
Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat
mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan demikian menghilangkan sifat
mendewa-dewakan manusia yang kebetulan sedang memegang kekuasaan, menghilangkan
kepercayaan pada kesaktian benda-benda keramat, mengikis kepercayaan pada
khurafat, takhyul, jampi-jampi dan sebagainya. Pegangan orang yang beriman
adalah surat al-Fatihah ayat 1-7.
2. Iman menanamkan semangat berani menghadap maut.
Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak diantara
manusia yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut menghadapi
resiko. Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah.
Pegangan orang beriman mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah dalam
QS. an-Nisa/4:78.
3. Iman menanamkan sikap “self-help” dalam kehidupan.
Rezeki atau mata pencaharian memegang peranan penting dalam kehidupan
manusia. Banyak orang yang melepaskan pendiriannya, arena kepentingan
penghidupannya. Kadang-kadang manusia tidak segan-segan melepaskan prinsip,
menjual kehormatan dan bermuka dua, menjilat dan memperbudak diri untuk
kepentingan materi. Pegangan orang beriman dalam hal ini ialah firman Allah
dalam QS. Hud/11:6.
4. Iman memberikan ketenteraman jiwa.
Acapkali manusia dilanda resah dan dukacita, serta digoncang oleh keraguan
dan kebimbangan. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan, hatinya tenteram
(mutmainnah), dan jiwanya tenang (sakinah), seperti dijelaskan dalam firman
Allah surat ar-Ra’d/13:28.
5. Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah).
Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu menekankan
kepada kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini dijelaskan Allah
dalam firman-Nya QS. an-Nahl/16:97.
6. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen.
Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat dengan ikhlas,
tanpa pamrih, kecuali keridhaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen
dengan apa yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan
hatinya. Ia senantiasa berpedoman pada firman Allah dalam QS. al-An’am/6:162.
7. Iman memberi keberuntungan
Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar, karena Allah
membimbing dan mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang
yang beriman adalah orang yang beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan
firman Allah dalam QS. al-Baqarah/2:5.
8. Iman mencegah penyakit
Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis
tubuh manusia mukmin dipengaruhi oleh iman. Hal itu karena semua gerak dan
perbuatan manusia mukmin, baik yang dipengaruhi oleh kemauan, seperti makan,
minum, berdiri, melihat, dan berpikir, maupun yang tidak dipengaruhi oleh
kemauan, seperti gerak jantung, proses pencernaan, dan pembuatan darah, tidak
lebih dari serangkaian proses atau reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh.
Organ-organ tubuh yang melaksanakan proses biokimia ini bekerja di bawah
perintah hormon. Kerja bermacam-macam hormon diatur oleh hormon yang diproduksi
oleh kelenjar hipofise yang terletak di samping bawah otak. Pengaruh dan
keberhasilan kelenjar hipofise ditentukan oleh gen (pembawa sifat) yang dibawa
manusia semenjak ia masih berbentuk zigot dalam rahim ibu. Dalam hal ini iman
mampu mengatur hormon dan selanjutnya membentuk gerak, tingkah laku, dan akhlak
manusia.
Demikianlah pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan
hanya sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, melainkan juga menjadi
kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap dan perilaku hidup. Apabila suatu
masyarakat terdiri dari orang-orang yang beriman, maka akan terbentuk
masyarakat yang aman, tenteram, damai dan sejahtera.